profesi arsiparis

Arsiparis Gregory Sanford  tengah berdiri di antara khazanah arsip di Middlesex, Inggris

Profesi Arsiparis di Indonesia – Meski nilai arsip, manfaat dan urgensitas mengapa arsip perlu dikelola dengan baik dan benar telah menjadi wacana yang umumnya telah diketahui secara luas, namun upaya riil untuk mewujudkan kondisi ideal kearsipan di Indonesia memang masih membutuhkan waktu yang tidak singkat. Perlu kerja keras, strategi yang tepat, proses pembudayaan sadar arsip yang berkelanjutan, sharing informasi arsip dan kearsipan yang luas dan terus menerus, peningkatan pengetahuan-pengalaman-kompetensi arsiparis yang tanpa henti, serta gerakan yang serentak, simultan dan terkoordinasi dari semua yang memiliki latar pendidikan dan minat yang sama di bidang kearsipan, dapatlah dijadikan pijakan untuk atmosfer kearsipan bumi Indonesia yang lebih baik dan akhirnya, pengakuan dan penghargaan yang lebih baik lagi bagi profesi arsiparis di tanah air.

Berita yang diangkat oleh Harian Kompas berikut ini hendaklah menjadi motivasi penguat bagi langkah bersama. Bahwa jika bukan para arsiparis itu sendiri yang menghargai arsip dan kearsipan, siapa lagi?? Profesi arsiparis masih diabaikan di Indonesia? Inilah kenyataan yang harus dan menjadi sesuatu yang sangat layak untuk diperjuangkan! Viva Archiva!

 

Profesi Arsiparis Masih Diabaikan di Indonesia

JAKARTA, KOMPAS.com | Senin, 14 Mei 2012 – Profesi arsiparis (ahli arsip) belum dianggap penting di Indonesia. Mereka yang mengurusi tata kelola arsip, tidak mengerti seluk beluk pengarsipan. Padahal arsip merupakan asset penting milik negara.

Kondisi semacam ini sangat berpengaruh pada sulitnya publik mengakses informasi data dari arsip-arsip yang disimpan. Selain itu, penanganan arsip yang tidak benar menyebabkan arsip menjadi rusak, terselip, tidak terawat dan bahkan hilang.

Peneliti Utama Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Mona Lohanda, Senin (14/5/2012), mengatakan, kearsipan adalah bidang profesional yang membutuhkan tenaga ahli spesialis.

“Pemerintah beranggapan arsip itu sebagai barang yang tidak berguna, sehingga bisa dikelola siapa saja meski orang itu tidak mengetahui ilmu kearsipan,” kata Mona.

Arsip memiliki nilai penting bagi kegiatan pendidikan seperti penelitian dan penulisan, terutama yang terkait dengan soal sejarah. Di ANRI yang menyimpan koleksi lebih dari 60.000 film dokumenter, tayangan berita televisi, dan film cerita buatan pemerintah ini penanganan koleksinya masih diabaikan.

Sebanyak 5.000 reel (gulungan) tayangan berita televisi milik TVRI dalam format video BCN yang diproduksi sejak tahun 1970, misalnya, dibiarkan begitu saja tanpa bisa diakses.

Informasi penting yang sewaktu-waktu dibutuhkan itu, tidak bisa diakses karena ANRI tidak memiliki alat untuk memutar video tersebut.

Mona mengatakan, sebenarnya di beberapa negara seperti Jerman, Jepang, dan Australia masih memiliki alat pemutar video BCN tersebut. Kalau pemerintah mau, video yang disimpan di ANRI sebenarnya bisa dikirimkan ke negara-negara tersebut, agar informasinya bisa dibaca dan dialihmediakan.

“Saya pernah mendapatkan tawaran dari teman-teman di Jepang, Jerman, dan Australia untuk membantu alihmedia tanpa bayaran. Indonesia hanya menanggung biaya pengirimannya saja, namun sampai sekarang juga belum ada tindak lanjutnya,” kata Mona.

Film-film yang tidak bisa dibaca itu kini ditumpuk begitu saja. Hal sama terjadi di Pusat Informasi dan Dokumentasi Perfilman (Sinematek) Indonesia. Karena tidak dikelola oleh ahlinya, publik sulit mendapatkan data dan informasi film yang disimpan di Pusat Informasi dan Dokumentasi (Sinematek) Indonesia.

Beberapa waktu lalu, Lintang Gitomartoyo, Asisten Pengembangan Program Restorasi Film Yayasan Konfiden, mengatakan, kesulitan mencari film Lewat Djam Malam untuk keperluan restorasi film di Italia.

Film tersebut ditemukan dalam tumpukan ratusan judul film dalam kondisi rusak, karena terkontaminasi karat dari kaleng penyimpanan dan mengandung tingkat keasaman tinggi.

Publik juga sulit mengakses film milik Sinematek, karena sebagian belum dialihmediakan sehingga tidak mungkin lagi diputar kembali karena rawan putus.

Sumber:
Tulisan : Kompas.com “Profesi Arsiparis Masih Diabaikan di Indonesia”
Foto      : Vt. State Archivist To Retire


read more

Penipuan melalui surat palsu harus diwaspadai. Karena, tidak hanya Ayu Ting Ting yang populer dengan “Alamat Palsu”-nya, dan bukan pula sms-sms penipuan dengan bujuk rayu kabar berita gembira Anda mendapat hadiah jutaan hingga milyaran rupiah, ternyata surat palsu pun tidak kalah dengan dua hal yang disebutkan sebelumnya. Ya, surat palsu pun saat ini dapat dijadikan sang penipu sebagai media untuk mencari mangsa-mangsa empuk untuk ditipu. Melalui posting ini, kami berharap kita lebih mewaspadai penipuan lewat surat palsu.

Kebetulan surat palsu ini penulis temukan saat akan melakukan pencatatan surat masuk. Sekilas pandang surat ini nampak seperti surat asli yang resmi, karena pada amplop pengirim surat dan kepala surat tercetak (lebih tepatnya, diprint) kop resmi. Seakan-akan surat tersebut memang berasal dari Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Perihal surat adalah sebuah pemberitahuan bahwa Rumah Sakit Pemerintah atau Rumah Sakit Swasta yang menerima surat ini merupakan Rumah Sakit yang mendapat surat ini merupakan Penerima Dana Hibah Kesehatan Tahun 2012 sebesar Rp 2.000.000.000,- (dua milyar rupiah), dan salah satu persyaratannya adalah Rumah Sakit yang bersangkutan harus mengirimkan dana pendamping sebesar 10% (atau Rp 200.000.000,-/dua ratus juta rupiah) ke rekening yang diberitahukan lewat telepon yang ada di kepala surat dan bagian akhir isi surat.

Amplop Surat Palsu penipuan

Tampilan Amplop Surat Palsu

 

Surat Palsu yang Mirip Sama Ternyata Sudah Ada di Tahun 2011

Saat membaca surat “dari” Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan ini, kening jadi berkerut karena serasa ada yang aneh dengan surat ini. Pada beberapa bagian dalam surat, tersirat hal-hal yang menimbulkan tanda tanya. Pertanyaan pertama yang muncul adalah, bagaimana bisa institusi tempat bekerja terpilih dan mendapat kesempatan untuk mendapatkan Dana Hibah Kesehatan 2012 ini secara tiba-tiba tanpa ada usaha awal sebagai syarat untuk menerimanya. Belum lagi hasil cetak printer yang di beberapa bagian kurang sempurna tercetak, jauh dari kesan bahwa ini adalah surat resmi dari Instansi Pemerintah.

 

Surat Palsu Dana Hibah Kesehatan 2012

Surat Palsu Dana Hibah Kesehatan 2012

 

Surat Palsu Dana Hibah Kesehatan 2011

Surat Palsu Dana Hibah Kesehatan 2011

 

Berbekal rasa penasaran inilah, maka hati tergerak untuk menelusuri lebih jauh informasi terkait dana hibah kesehatan ini. Searching melalui Google dengan kata kunci “dana hibah kesehatan”, maka dari hasil Googling ini penelusuran berlanjut hingga ke situs resmi buk.depkes.go.id. Berikut berita yang dilansir oleh BUK Kemenkes RI terkait surat palsu yang mengatasnamakan Ditjen BUK ini. Dan ternyata, pola penipuan melalui surat palsu ini telah diketahui sejak tahun 2011 yang lalu. Berikut berita yang dilansir Ditjen BUK Kemenkes RI:

HATI-HATI SURAT PALSU MENGATASNAMAKAN DITJEN BUK
Modus penipuan surat palsu yang mengatasnamakan Pimpinan dan Instansi Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan kembali beredar di masyarakat. Motif penipuan kali ini menyangkut PENERIMA DANA HIBAH KESEHATAN TAHUN 2011 yang ditujukan kepada Rumah Sakit Swasta dan Klinik sebagai penerima hibah diwajibkan menyelesaikan dana pendamping minimal 10% sebelum menerima dana hibah tersebut. Ditjen Bina Upaya Kesehatan menyatakan bahwa ini SURAT PALSU. Bentuk Surat Palsu dapat dilihat disini.

Waspadalah dengan motif penipuan yang semakin berkembang. Ditjen Bina Upaya Kesehatan TIDAK PERNAH meminta transfer/mengirimkan sejumlah uang, berupa biaya pendamping, biaya pelaksanaan kegiatan atau semacamnya. Diharapkan masyarakat berhati-hati dan mengkonfirmasikan terlebih dahulu ke Bagian Hukum, Organisasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan, dengan nomor telepon : Kantor: (021) 5201590 ext. 4015 dan 1302 atau : (021) 5277734. Fax. (021) 5277734

Sumber: http://buk.depkes.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=256:hati2&catid=1:latest-news

Berita lain terkait penipuan surat palsu: Awas! Beredar Surat Palsu Hibah Dana Kesehatan

Surat palsu dana hibah kesehatan dapat diunduh melalui link ini. Semoga melalui tulisan ini, kita menjadi lebih hati-hati dan mewaspadai aksi penipuan melalui surat palsu.


read more

Sebagai upaya penyelamatan arsip penting inovasi yang terlahir beserta karya-karya intelektual dan memori kolektif yang berkaitan dengan bukti status intelektualitas serta pengembangan potensi keilmuan yang berkaitan dengan fungsi perguruan tinggi sebagai lembaga penelitian, lembaga pendidikan dan pengabdian masyarakat, maka perguruan tinggi perlu membangun dan mengembangkan arsip perguruan tinggi (atau arsip universitas).

Arsip-arsip perguruan tinggi mutlak dikelola secara benar dan profesionalitas karena berkaitan dengan memori kolektif perguruan tinggi sekaligus sebagai sumber rujukan/bahan penelitian dalam pengembangan keilmuan.

Berkaitan dengan hal ini, Arsip Universitas UGM menyelenggarakan sebuah Seminar Nasional Kearsipan 2011. Seminar Nasional Kearsipan 2011 ini mengusung Tema “Arsip Sebagai Memori Koleksi Perguruan Tinggi dan Sumber Penelitian”. Seminar nasional dilaksanakan tanggal 10 Desember 2011, mengambil loksi di Gedung Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada.

Sebagai pembicara pada seminar nasional 2011 ini adalah Dra. Mona Lohanda, M.Phil. (Pakar Arsip dan Sejarah), M. Asichin, S.H., M.Hum. (Kepala ANRI), Dr. Sri Margana, M.A. (Peneliti Arsip & KaProdi Sejarah UGM), dan Dr. Nandang Alamsyah Deliarnoor, S.H., M.Hum. (Pakar Ilmu Pemerintahan & Koordinator Program Doktor UNPAD).

Untuk pendaftaran Seminar Nasional Kearsipan 2011 diselenggarakan antara tanggal 1 Oktober 2011 hingga tanggal 25 November 2011. Sekretariat pendaftaran bertempat di gedung Kantor Arsip Universitas Gadjah Mada, Sekip Unit V Lantai I Yogyakarta, Telp. (0274) 6492152 / Fax. (0274) 582907. Contact Person pendaftaran dapat menghubungi Icha (081 80 40 80 617) atau Zaen (081 93 17 00 636).

Detail terkait acara silahkan unduh leaflet berikut:

seminar nasional kearsipan 2011 | arsip perguruan tinggi | arsip universitas

Publikasi Seminar Kearsipan 2011 “Arsip Sebagai Memori Kolektif Perguruan Tinggi dan Sumber Penelitian”

.

Demikian pengumuman Seminar Kearsipan 2011 terkait Arsip Perguruan Tinggi ini. Semoga bermanfaat.


read more

Informasi Seminar Kearsipan 2011. Seminar Kearsipan dengan tema Manajemen Kearsipan Terintegrasi dengan Perkembangan Teknologi Informasi dilaksanakan pada Sabtu, 9 Juli 2011 di Ruang Seminar Lantai 5 Sekolah Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada. Untuk informasi selengkapnya, sebagaimana tercantum di bawah ini:

seminar manajemen kearsipan terintegrasi dengan teknologi informasi | manajemen kearsipan dan teknologi informasi

Seminar Kearsipan 2011

Seminar diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Diploma Kearsipan (HIMADIKA) Diploma Kearsipan Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada.

Para pembicara dalam seminar kearsipan ini adalah pada ‘guru’ yang sangat mahir di bidangnya, yaitu H.M. Asichin (Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia/ANRI), Drs. Machmoed Effendi, M.Hum. (Kepala Arsip UGM) dan Mardhani Riasetiawan, SE.,AKT.MT. (praktisi telematika)

Seminar akan membeberkan pembahasan terkait manajemen kearsipan yang terintegrasi dengan teknologi informasi. Sangat layak diikuti, karena akan memberikan kita wawasan tambahan mengenai arsip yang dapat bersinergi dengan teknologi informatika.

Untuk mengunduh poster seminar, silahkan klik link ini: Seminar Kearsipan “Manajemen Kearsipan Terintegrasi dengan Perkembangan Teknologi Informasi“.

 


read more

Rancangan Peraturan Pemerintah untuk UU Kearsipan Nomor 43 Tahun 2009 (RPP Pelaksanaan UU Kearsipan) tengah dalam proses penyusunan atau penggodokan oleh Arsip Nasional Republik Indonesia. Semoga tahun ini rancangan Peraturan Pemerintah ini segera selesai dan disahkan pemberlakuannya oelh Pemerintah Republik Indonesia, sehingga segera dapat dipahami dan dilaksanakan isi kandungannya untuk penyelenggaraan kearsipan dan sistem kearsipan yang lebih baik di Tanah Air.

Rancangan Peraturan Pemerintah untuk UU Kearsipan Nomor 43 Tahun 2009 terdiri dari 191 Pasal. Saat ini admin duniaarsip.com tengah dalam proses pembacaan, pencermatan pemahaman terhadap isi dari RPP ini. Bagi rekan-rekan arsiparis, pemerhati arsip dan kearsipan, ataupun mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan di jurusan Kearsipan, dapat turut serta memberikan sumbangsih dalam penyempurnaan rancangan Peraturan Pemerintah untuk Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 Tentang Kearsipan ini.

Selengkapnya mengenai Rancangan Peraturan Pemerintah pelaksanaan UU Kearsipan Nomor 43 Tahun 2009, dapat diunduh melalui link ini: RPP-UU No 43 Tahun 2009 mengenai Kearsipan.

Untuk masukan/saran dapat disampaikan melalui email : hukum@anri.go.id atau hukumperundangundangan@yahoo.com. Namun admin duniaarsip.com hingga saat ini belum mengetahui batas waktu pengiriman masukan/saran terhadap Rancangan Peraturan Pemerintah untuk Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 mengenai Kearsipan ini. Partisipasi kita untuk kearsipan Indonesia yang lebih baik, dinanti-nantikan.


read more