Friday 23rd June 2017
HomeBerita ArsipProfesi Arsiparis Masih Diabaikan di Indonesia – Sesuatu untuk Diperjuangkan!!!

Profesi Arsiparis Masih Diabaikan di Indonesia – Sesuatu untuk Diperjuangkan!!!

profesi arsiparis

Arsiparis Gregory Sanford  tengah berdiri di antara khazanah arsip di Middlesex, Inggris

Profesi Arsiparis di Indonesia – Meski nilai arsip, manfaat dan urgensitas mengapa arsip perlu dikelola dengan baik dan benar telah menjadi wacana yang umumnya telah diketahui secara luas, namun upaya riil untuk mewujudkan kondisi ideal kearsipan di Indonesia memang masih membutuhkan waktu yang tidak singkat. Perlu kerja keras, strategi yang tepat, proses pembudayaan sadar arsip yang berkelanjutan, sharing informasi arsip dan kearsipan yang luas dan terus menerus, peningkatan pengetahuan-pengalaman-kompetensi arsiparis yang tanpa henti, serta gerakan yang serentak, simultan dan terkoordinasi dari semua yang memiliki latar pendidikan dan minat yang sama di bidang kearsipan, dapatlah dijadikan pijakan untuk atmosfer kearsipan bumi Indonesia yang lebih baik dan akhirnya, pengakuan dan penghargaan yang lebih baik lagi bagi profesi arsiparis di tanah air.

Berita yang diangkat oleh Harian Kompas berikut ini hendaklah menjadi motivasi penguat bagi langkah bersama. Bahwa jika bukan para arsiparis itu sendiri yang menghargai arsip dan kearsipan, siapa lagi?? Profesi arsiparis masih diabaikan di Indonesia? Inilah kenyataan yang harus dan menjadi sesuatu yang sangat layak untuk diperjuangkan! Viva Archiva!

 

Profesi Arsiparis Masih Diabaikan di Indonesia

JAKARTA, KOMPAS.com | Senin, 14 Mei 2012 – Profesi arsiparis (ahli arsip) belum dianggap penting di Indonesia. Mereka yang mengurusi tata kelola arsip, tidak mengerti seluk beluk pengarsipan. Padahal arsip merupakan asset penting milik negara.

Kondisi semacam ini sangat berpengaruh pada sulitnya publik mengakses informasi data dari arsip-arsip yang disimpan. Selain itu, penanganan arsip yang tidak benar menyebabkan arsip menjadi rusak, terselip, tidak terawat dan bahkan hilang.

Peneliti Utama Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Mona Lohanda, Senin (14/5/2012), mengatakan, kearsipan adalah bidang profesional yang membutuhkan tenaga ahli spesialis.

“Pemerintah beranggapan arsip itu sebagai barang yang tidak berguna, sehingga bisa dikelola siapa saja meski orang itu tidak mengetahui ilmu kearsipan,” kata Mona.

Arsip memiliki nilai penting bagi kegiatan pendidikan seperti penelitian dan penulisan, terutama yang terkait dengan soal sejarah. Di ANRI yang menyimpan koleksi lebih dari 60.000 film dokumenter, tayangan berita televisi, dan film cerita buatan pemerintah ini penanganan koleksinya masih diabaikan.

Sebanyak 5.000 reel (gulungan) tayangan berita televisi milik TVRI dalam format video BCN yang diproduksi sejak tahun 1970, misalnya, dibiarkan begitu saja tanpa bisa diakses.

Informasi penting yang sewaktu-waktu dibutuhkan itu, tidak bisa diakses karena ANRI tidak memiliki alat untuk memutar video tersebut.

Mona mengatakan, sebenarnya di beberapa negara seperti Jerman, Jepang, dan Australia masih memiliki alat pemutar video BCN tersebut. Kalau pemerintah mau, video yang disimpan di ANRI sebenarnya bisa dikirimkan ke negara-negara tersebut, agar informasinya bisa dibaca dan dialihmediakan.

“Saya pernah mendapatkan tawaran dari teman-teman di Jepang, Jerman, dan Australia untuk membantu alihmedia tanpa bayaran. Indonesia hanya menanggung biaya pengirimannya saja, namun sampai sekarang juga belum ada tindak lanjutnya,” kata Mona.

Film-film yang tidak bisa dibaca itu kini ditumpuk begitu saja. Hal sama terjadi di Pusat Informasi dan Dokumentasi Perfilman (Sinematek) Indonesia. Karena tidak dikelola oleh ahlinya, publik sulit mendapatkan data dan informasi film yang disimpan di Pusat Informasi dan Dokumentasi (Sinematek) Indonesia.

Beberapa waktu lalu, Lintang Gitomartoyo, Asisten Pengembangan Program Restorasi Film Yayasan Konfiden, mengatakan, kesulitan mencari film Lewat Djam Malam untuk keperluan restorasi film di Italia.

Film tersebut ditemukan dalam tumpukan ratusan judul film dalam kondisi rusak, karena terkontaminasi karat dari kaleng penyimpanan dan mengandung tingkat keasaman tinggi.

Publik juga sulit mengakses film milik Sinematek, karena sebagian belum dialihmediakan sehingga tidak mungkin lagi diputar kembali karena rawan putus.

Sumber:
Tulisan : Kompas.com “Profesi Arsiparis Masih Diabaikan di Indonesia”
Foto      : Vt. State Archivist To Retire

One Comment to “Profesi Arsiparis Masih Diabaikan di Indonesia – Sesuatu untuk Diperjuangkan!!!”

  • Anonymous says:

    Pengen lebih mendalami tentang kearsipan kunjungi http://tentangarsip.blogspot.co.id/

  • Leave a Reply for “Profesi Arsiparis Masih Diabaikan di Indonesia – Sesuatu untuk Diperjuangkan!!!”




    XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>